Jumat, 18 Juni 2010

A Long Road To The Marriage

Mencari Cinta

Malam merayap siput. Hujan menderap

Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri

Mata susah pejam, angan layang liar

Kuraba sisi kasur. Kosong

Kapankah ia berpenghuni?

Hanya Takdir yang tahu

Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.

(Elegi Lajang, 2010)

Menjadi lajang adalah berada dalam medan daya tarik-menarik antara keinginan dan pilihan. Banyak keinginan namun banyak pula pilihan Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia,”Kadang manusia dihadapkan pada sebuah pilihan dalam hidupnya. Jika tidak bisa memilih saat itu ia tidak mendapat apa-apa.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Ya, memilih! Buat seorang peragu alangkah beratnya. Buat seorang sembrono atau ceroboh juga sulit. Yang berbeda adalah reaksi mereka. Si peragu akan tercenung lama dan membuat sebal banyak orang karena banyaknya waktu yang diperlukan untuk memikirkan pilihan yang akan dipilih. Si sembrono justru akan tergesa-gesa mengambil pilihan tanpa berpikir masak-masak. Untuk kemudian ia menyesal. Si peragu juga kerap menyesal karena ia kehilangan peluang atau momentum. Bukankah segala sesuatu itu indah pada waktunya?


HEHEHE......

2 komentar: