Kamis, 26 Agustus 2010

Pendistribusian Zakat Profesi BAZ Kec. Kuantan Hilir

Jumat, 27 Agustus 2001 
Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Kuantan Hilir kembali mendistribusikan zakat profesi per  September  2009 s.d Agustus 2010. Jumlah zakat yang terkumpul adalah Rp. 20.080.400,-. yang terdiri dari 5 UPZ dan 3 perorangan kepada 56 Muztahiq, masing2 mustahiq menerima sebesar Rp.300.000.
 

Sabtu, 19 Juni 2010

Afwan, Tidak Sekufu !!!



“afwan ya mbak, bukannya ana menolak. Tapi ana hanya bisa melanjutkan proses bila ikhwan itu seorang dokter”. Begitulah kata seorang akhwat kepada murobbiyahnya.

Akhwat itu memang sedikit special. Wajahnya menarik, bersih dan manis. Setidaknya beberapa orang mengakui kalimat ini. Ditambah suara yang memikat setiap orang yang mendengarnya. Ini jujur! Kalau ia meminta tolong kepada seorang ikhwan, niscaya ikhwan itu pasti membantu. Tak soal tugas apapun itu, sampai-sampai tugas kuliah pun dibantu, meski yang membantu bukan dari jurusan yang sama. Begitulah penuturan murobbiyahnya yang mencatat fakta itu.

“menurut ana tugas dokter itu mulia mbak, jadi alangkah baiknya jika ana bisa membantunya”. Sekian kali akhwat tersebut menolak tawaran ikhwan yang datang hanya karena kemuliaan profesi dokter. Padahal di antara ikhwan yang dating ada profesi yang tak kalah mulia. Sebut saja seorang guru SDIT, karyawan grafis di sebuah penerbitan Islam, seorang penulis, sampai seorang karyawan di perusahaan listrik.

Beberapa waktu berselang, akhwat ini mendapat berita yang menyesakkan dada. Teman satu halaqohnya menikah dengan seorang dokter. Padahal temannya itu sama sekali tidak mengharapkan seorang dokter seperti dia. Betapa teganya sang murobbiyah!! Tawaran itu mengapa tidak diberikan kepadanya. Begitu ditanya, sang murobbiyah hanya menjawab “ya ikhwan dokter itu tidak mau sama dia, malah pilih temannya itu”. Akhwat itu mungkin lupa bahwa menikah adalah keputusan dua orang. Kasihan, pungguk merindukan dokter!

Mirip Dian Sastro-lah
Seorang ikhwan mengaku kewalahan menghadapi teman baiknya (seorang ikhwan pula). Pasalnya, sudah sekian kali mencari calon akhwat untuk temannya itu tapi masih belum ada satupun yang diminati. “gimana nih akh, sudah 20 biodata masih belum ada juga yang pas di hati antum”. Ujar ikhwan itu agak kesal. “sabar akhi! Ana masih ingin mencari terus sampai ana dapat yang ana mau”. Jawab temannya. “oke deh, sekarang antum maunya yang kayak gimana?”. Ikhwan itu akhirnya pasrah. Temannya tersenyum lebar sekali. Matanya menerawang membayangkan sesuatu. Lalu ia menatap ikhwan itu dengan pandangan tajam dan berkata “ya, minimal mirip Dian Sastro-lah!” Haaaahhh, tidak salah….. minimal! Ngaca dulu donk! Beruntung ikhwan itu tidak bicara demikian. Ia hanya menggelengkan kepala dan tertawa lepas mengdengar permintaan temannya itu. “eh, ketawa lagi. Ini serius akhi!” temannya memprotes. Sang ikhwan malah makin keras tertawa melihat muka temannya tambah serius.

“tukang cuci ana saja mengadakan pesta pernikahan anaknya sampai 10 juta. Gimana ana?! Kalau ada 25 juta mungkin baru cukup”. Kalimat pertama. “antum kayanya konyol kalau baru ada 10 juta tapi berani maju untuk nikah”. Ini yang kedua. “antum jangan malas donk! Cari kerja sampingan”. Ketiga. “kayanya antum pelit nih! Sekarang saja sikapnya begini. Bagaimana kalau sudah menikah, nanti antum pelit sama orang tua ana”. Ini keempat. “…….kelima……….” keenam.

Kalimat-kalimat itu bukan keluar dari orang yang berbeda. Juga untuk orang yang berbeda pula. Tapi dari satu orang untuk satu orang. Seorang akhwat kepada ikhwan calonnya. Sang ikhwan hanya mampu bersabar sampai kalimat  keempat. Ia tidak ingat kalimat kelima, keenam dan seterusnya. Akhirnya ikhwan itu memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ke jenjang yang lebih lanjut. Ia takut diburu ambisi, bias-bisa malah merampok untuk menikah. Kan, jadi lucu!

Itu yang namanya sekufu?
Itulah sekelumit catatan kecil. Mudah-mudahan ini hanya setetes minyak di samudera luas. Kumpulan perilaku yang semoga tidak mengotori kesucian dakwah. Semoga ikhwah sekalian bisa menemukan kisah-kisah yang lebih baik dari itu. Lalu menjadikannya bahan teladan bagi kehidupan kita.
Sejarah dan catatan hidup orang-orang sholeh terhampar begitu banyak. Merekalah contoh-contoh sejati.

Tetapi sebagian kita masih saja berpikiran kerdil, sempit dan egois. Bahkan mereka menjadikan sejarah untuk mendukung ambisi pribadi. Memilih wanita hanya karena kecantikannya, karena Rasulullah SAW memilih Aisyah RA yang cantik dan pintar. Memilih calon hanya dari keturunannya dengan alas an Rasulullah SAW memilih Zainab binti Zahsy yang bangsawan. Atau memilih pasangan hidup dari kekayaannya melihat Nabi menikahi Khadijah yang kaya dan mapan.

Lalu mengapa tidak mengambil pelajaran dari kisah Rasulullah saat memilih Saudah binti Zam’ah? Wanita itu sama sekali tidak secantik dan secerdas Aisyah, tidak sekaya Khadijah, dan bukan bangsawan seperti Zainab binti Zahsy. Saudah bertubuh gemuk dan tidak sedap dipandang mata, berasal dari keluarga sederhana, dan seorang janda. Tapi apa yang dilihat Rasulullah dari Saudah? Beliau melihat pancaran pesona yang luar biasa. Dahulu bersama suaminya Sakran bin Amr, Saudah rela hidup susah meninggalkan Mekkah menuju negeri sebrang Habasyah. Saudah mampu mengganti peran Khadijah dalam mendidik putra putri kandung Rasulullah (Rasulullah hanya memiliki anak kandung dari Khadijah dan Mariyah Qibthiyah). Rasulullah tidak bisa mengharapkan itu dari Aisyah yang masih belum dewasa. Saudah bahkan rela menghadiahkan malam-malam gilirannya kepada Aisyah, istri Rasulullah yang paling pencemburu.

Kini tanyakan pada kenyataan saat ini. Adakah yang demikian? Apakah kisah Saudah tidak cukup menjadi pelajaran per-sekufu-an (dalam menikah) bagi kita?! Ah itu kan Nabi! Kalau diberikan contoh sahabat Rasulullah; ah itu kan sahabat! Bila disodorkan contoh orang-orang sholeh; ah it kan usdtadz! Dan bila diceritakan kisah teman-temannya sendiri; ah itu kan dia!
Ah!! Dasar manusia!
Allahu’alam.

Hanya kepada keindahan hati yang layak mendapat persembahan cinta
Kecantikan, begitulah akan lumer seperti es krim yang meleleh ketika dirambati usia

Namun keindahan itu akan tetap di sana…

Ukhti, Jangan Tangisi Apa Yg Bukan Milikmu !!!


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum : harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid : 22-23).

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah : Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan firman dari Allah : "… Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya : hidup di akhirat kelak! 
Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

Jumat, 18 Juni 2010

Lihatkah? aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari

setiap kupeluk an menangisi hijau pucatnya cemara

yang sedih aku letih

Dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah

gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering

melemah dan melemah

hujan, hujan jangan marah..


Koleksi Efek Rumah Kaca  yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Efek Rumah Kaca – Hujan Jangan Marah
Gambar Artis Indonesia



Koleksi Efek Rumah Kaca  yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Efek Rumah Kaca – Lagu Kesepian
Gambar Artis Indonesia

Mo promo buku ajaaa...

Mengapa harus ada kata jatuh yang berada di depan kata
cinta?

Apakah cinta memang selalu identik dengan musinah
dan malapetaka?

Mengapa harus kata mati yang berada di belakang
kata cinta?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara
dan setetes airmata?

Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan
tumbuh bersama cinta.

Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita,
ya, luka yang teramat pedih

Luka yang berakhir dg tangisan pilu
dan kesedihan abadi

hmmm..lg Promo bukunya mbak Asma Nadia, dkk

buat yang mengalami hal2 diatas, 
baca dunk

Selalu ada jalan terbentang, selalu ada 
kemungkinan untuk menang

Jangan terlalu larut dalam kesedihan,,

La Tahzan
For 
Broken Hearted
MUSLIMAH

sudahkan kita bercermin hari ini?

Celakalah orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.” (Al Hadis)

Soal bercermin, saya teringat kelakar seorang kawan mengenai kiat agar cepat mendapatkan jodoh. Dia bilang hanya perlu 3 B yakni Berusaha, Berdoa dan Bercermin alias ngaca, apakah wajah kita sudah cukup “layak” untuk menaksir sang calon.

Tapi bukan sekadar itu.

Bukan juga cermin yang dimiliki sang ibu tiri Snow White —yang kita akrabi sebagai Putih Salju—yang selalu menyanjung-nyanjungnya ketika sang empu cermin mematut diri seraya bertanya, “Mirror..mirror on the wall, who’s the prettiest of all?”.

Kendati pada akhirnya ketika si cermin berkata jujur bahwa Putih Salju adalah yang tercantik, nasibnya pun berakhir menjadi serpihan kaca. Mungkin dari legenda itu juga pepatah ‘buruk muka cermin dibelah’ berasal.

Bercermin dalam pengertian luas adalah bermuhasabah, introspeksi diri. “Introspeksilah dirimu sebelum Tuhan menghitung amalmu (di hari akhir),” demikian pesan hadis Nabi Muhammad SAW. Bahkan sang Nabi nan mulia dan para sahabatnya ketika bertegur sapa tidak hanya sekadar berbasa-basi namun juga menanyakan apa yang sudah dilakukan pada hari itu. Sudah seberapa banyak ibadah, dan seberapa melimpah karya yang dihasilkan. Rasulullah SAW juga mensunnahkan pengikutnya untuk melakukan introspeksi harian dengan doa-doa al ma’tsur pada pagi dan petang hari.

Sudahkah hari ini kita berintrospeksi diri dan mengenali diri kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang berpikiran positif alias berkonsep diri positif atau justru berkonsep diri negatif? Barangkali kita menyangkalnya, namun perilaku kita justru membuktikan tipe seperti apa kita.

Menurut William D. Brooks dan Phillip Emmert (1976) yang dikutip Jalaluddin Rahmat dalam buku populernya Psikologi Komunikasi, ada lima tanda orang yang berkonsep diri negatif.

Pertama, ia peka terhadap kritik. Orang semacam ini sangat mudah marah akibat kritik yang diterimanya. Baginya koreksi atau kritik adalah upaya untuk menjatuhkan harga dirinya. Ia cenderung menghindari dialog terbuka dan bersikeras mempertahankan pendapat dengan berbagai justifikasi dan logika yang keliru.

Kedua, ia sangat responsif terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, antusiasmenya ketika menerima pujian tak dapat disembunyikan. Buatnya, segala macam embel-embel yang menunjang harga diri menjadi pusat perhatiannya.

Ketiga, sebangun dengan kesenangannya menerima pujian, ia juga bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela dan meremehkan apapun dan siapapun. Ia tidak pandai dan tidak mampu mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain.

Keempat, orang yang berkonsep diri negatif cenderung merasa tidak disukai orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itu ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah menyalahkan dirinya tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.

Kelima, ia bersikap pesimis terhadap kompetisi. Ia enggan bersaing dengan orang lain dalam berprestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Sebaliknya orang yang berkonsep diri positif juga ditandai dengan lima hal: (1) ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah; (2) ia merasa setara dengan orang lain; (3) ia menerima pujian tanpa rasa malu; (4) ia menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, perilaku dan keinginan yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan (5) ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Dalam kenyataannya memang tidak ada orang yang murni sepenuhnya berkonsep diri positif atau negatif. Namun, sebatas kita mampu, sebanyak mungkin ciri-ciri konsep diri positif semestinya kita punyai.

Kapan momen yang tepat? Ya, saat ini, sekarang juga. Tak peduli penghujung tahun, akhir tahun atau pertengahan tahun sekalipun. Tiada waktu yang terbaik kecuali SEKARANG.

Ah, ini juga nasihat buat saya sendiri. Saya yang kerap tergopoh-gopoh disergap deadline pekerjaan karena belenggu mood yang berubah-ubah; yang kerap berjuang keras berkompromi dengan kritik, dan sederet kelemahan lainnya. Untunglah salah satu Jendela Johari—teori psikologi yang mengungkapkan lima jendela kepribadian manusia—mengenai aib diri saya masih Tuhan lindungi untuk tak diketahui secara luas. Dengan ini, setidaknya saya coba berbagi untuk semua.

Karena adakalanya, pesan Imam Syafi’i, sebuah ilmu itu terkadang justru lebih mampu dimanfaatkan di tangan orang yang menerimanya ketimbang orang yang mengajarkannya.

Maka, sudahkah kita bercermin hari ini?

A Long Road To The Marriage

Mencari Cinta

Malam merayap siput. Hujan menderap

Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri

Mata susah pejam, angan layang liar

Kuraba sisi kasur. Kosong

Kapankah ia berpenghuni?

Hanya Takdir yang tahu

Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.

(Elegi Lajang, 2010)

Menjadi lajang adalah berada dalam medan daya tarik-menarik antara keinginan dan pilihan. Banyak keinginan namun banyak pula pilihan Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia,”Kadang manusia dihadapkan pada sebuah pilihan dalam hidupnya. Jika tidak bisa memilih saat itu ia tidak mendapat apa-apa.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Ya, memilih! Buat seorang peragu alangkah beratnya. Buat seorang sembrono atau ceroboh juga sulit. Yang berbeda adalah reaksi mereka. Si peragu akan tercenung lama dan membuat sebal banyak orang karena banyaknya waktu yang diperlukan untuk memikirkan pilihan yang akan dipilih. Si sembrono justru akan tergesa-gesa mengambil pilihan tanpa berpikir masak-masak. Untuk kemudian ia menyesal. Si peragu juga kerap menyesal karena ia kehilangan peluang atau momentum. Bukankah segala sesuatu itu indah pada waktunya?


HEHEHE......

Minggu, 13 Juni 2010

Destinasi Hati

Dalam hidup kita banyak pilihan jalan
kiri, kanan, atas, bawah
Simpang siur ada didalam pikiran
Kekusutan ada didalam jiwa
Semua tersimpan menjadi kecemasan didalam hati

Sekiranya semua pilihan adalah sama
Mungkin hidup sudah tidak berwarna

Pilihan jalan belum tentu salah
Hanya kadang memutar sebelum tiba
Pilihan harus ditetapkan
Jangan menyesal jika sudah dirasakan

Pilihan bisa berganda
Namun semua menuju satu destinasi
Yaitu memperbaiki dan mengobati hati

Jumat, 11 Juni 2010

MENIKAH BUKAN UNJUK PRESTASI

Seorang muslimah dengan berkaca-kaca bercerita kepada saya bahwa ia ingin segera menikah. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu', juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh.

Saya sedih mendengar curhatnya. Saya juga mencoba memahami perasaannya. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?

Saya meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.

Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ''Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil 'Mbak'. Anak saya kan sudah tiga.'' Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di 'uji' dengan berbagai kemudahan dari Allah?

Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46: ''Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.'' Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.

Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang 'enak-enak' berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri. Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.

Menikah adalah sunah Rasul dan ibadah, ia pun merupakan ladang jihad muslimah. Saya yakin prestasi dan kualitas seorang muslimah sebelum menikah berbanding lurus dengan kualitasnya sesudah menikah. Artinya, kualitas seseorang setelah berumah tangga baik secara ruhiyah, fikriyah maupun amaliah sangat dipengaruhi bagaimana sosoknya sebelum menikah. Fenomena futur setelah menikah sering terjadi, karena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang pernikahan sejak masih lajang. Karena pernikahan dianggap prestasii tertinggi yang bisa diraih.

Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Bagi yang sudah berkeluarga, selayaknya mensyukuri pernikahan dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Kalaupun belum mampu memberikan solusi, menjaga perasaan dan memiliki kepekaan kepada sesama adalah hal terbaik dalam ikatan ukhuwah kita.