“
Celakalah orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.” (Al Hadis)
Soal bercermin, saya teringat kelakar seorang kawan mengenai kiat agar cepat mendapatkan jodoh. Dia bilang hanya perlu 3 B yakni Berusaha, Berdoa dan Bercermin alias ngaca, apakah wajah kita sudah cukup “layak” untuk menaksir sang calon.
Tapi bukan sekadar itu.
Bukan juga cermin yang dimiliki sang ibu tiri Snow White —yang kita akrabi sebagai Putih Salju—yang selalu menyanjung-nyanjungnya ketika sang empu cermin mematut diri seraya bertanya, “Mirror..mirror on the wall, who’s the prettiest of all?”.
Kendati pada akhirnya ketika si cermin berkata jujur bahwa Putih Salju adalah yang tercantik, nasibnya pun berakhir menjadi serpihan kaca. Mungkin dari legenda itu juga pepatah ‘buruk muka cermin dibelah’ berasal.
Bercermin dalam pengertian luas adalah bermuhasabah, introspeksi diri. “Introspeksilah dirimu sebelum Tuhan menghitung amalmu (di hari akhir),” demikian pesan hadis Nabi Muhammad SAW. Bahkan sang Nabi nan mulia dan para sahabatnya ketika bertegur sapa tidak hanya sekadar berbasa-basi namun juga menanyakan apa yang sudah dilakukan pada hari itu. Sudah seberapa banyak ibadah, dan seberapa melimpah karya yang dihasilkan. Rasulullah SAW juga mensunnahkan pengikutnya untuk melakukan introspeksi harian dengan doa-doa al ma’tsur pada pagi dan petang hari.
Sudahkah hari ini kita berintrospeksi diri dan mengenali diri kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang berpikiran positif alias berkonsep diri positif atau justru berkonsep diri negatif? Barangkali kita menyangkalnya, namun perilaku kita justru membuktikan tipe seperti apa kita.
Menurut William D. Brooks dan Phillip Emmert (1976) yang dikutip Jalaluddin Rahmat dalam buku populernya Psikologi Komunikasi, ada lima tanda orang yang berkonsep diri negatif.
Pertama, ia peka terhadap kritik. Orang semacam ini sangat mudah marah akibat kritik yang diterimanya. Baginya koreksi atau kritik adalah upaya untuk menjatuhkan harga dirinya. Ia cenderung menghindari dialog terbuka dan bersikeras mempertahankan pendapat dengan berbagai justifikasi dan logika yang keliru.
Kedua, ia sangat responsif terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, antusiasmenya ketika menerima pujian tak dapat disembunyikan. Buatnya, segala macam embel-embel yang menunjang harga diri menjadi pusat perhatiannya.
Ketiga, sebangun dengan kesenangannya menerima pujian, ia juga bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela dan meremehkan apapun dan siapapun. Ia tidak pandai dan tidak mampu mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain.
Keempat, orang yang berkonsep diri negatif cenderung merasa tidak disukai orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itu ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah menyalahkan dirinya tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.
Kelima, ia bersikap pesimis terhadap kompetisi. Ia enggan bersaing dengan orang lain dalam berprestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Sebaliknya orang yang berkonsep diri positif juga ditandai dengan lima hal: (1) ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah; (2) ia merasa setara dengan orang lain; (3) ia menerima pujian tanpa rasa malu; (4) ia menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, perilaku dan keinginan yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan (5) ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Dalam kenyataannya memang tidak ada orang yang murni sepenuhnya berkonsep diri positif atau negatif. Namun, sebatas kita mampu, sebanyak mungkin ciri-ciri konsep diri positif semestinya kita punyai.
Kapan momen yang tepat? Ya, saat ini, sekarang juga. Tak peduli penghujung tahun, akhir tahun atau pertengahan tahun sekalipun. Tiada waktu yang terbaik kecuali SEKARANG.
Ah, ini juga nasihat buat saya sendiri. Saya yang kerap tergopoh-gopoh disergap deadline pekerjaan karena belenggu mood yang berubah-ubah; yang kerap berjuang keras berkompromi dengan kritik, dan sederet kelemahan lainnya. Untunglah salah satu Jendela Johari—teori psikologi yang mengungkapkan lima jendela kepribadian manusia—mengenai aib diri saya masih Tuhan lindungi untuk tak diketahui secara luas. Dengan ini, setidaknya saya coba berbagi untuk semua.
Karena adakalanya, pesan Imam Syafi’i, sebuah ilmu itu terkadang justru lebih mampu dimanfaatkan di tangan orang yang menerimanya ketimbang orang yang mengajarkannya.
Maka, sudahkah kita bercermin hari ini?